Maaf aku tak bisa turut merayakan kemenangan yang sudah sering kita nantikan.
Maaf disini aku hanya bisa menutupi kesedihan yang dibekukan keadaan.
Mungkin hanya ucapan yang bisa mewakilkan segala perasaan.
Bagimu; aku sebatas kesunyian yang terus meramaikan kesedihanmu.
Ketahuilah, doaku takkan pernah lupa menyebutmu.
Tentang masa depanmu; aku tak pernah lupa memikirkan di pra-tidurku.
Selama ini;
kesan persaudaraan yang menyambung sebatas kekerabatan yang diformalkan.
Namun, saat ini tlah kutemukan kasih sayang yang sakral;
yang menjadikan kau pemenang dari yang tersayang.
Selama ini,
kita hanya sebatas permasalahan yang tak terselesaikan.
Kadang jarak memang bisa merubah keadaan;
dari kehilangan menjadi saling menemukan tuk mengingatkan kebaikan.

Dimuat di majalah Mimbar pada Februari 2015




Tahukah engkau kekasih?
Malam-malamku layu, sejak kepergianmu.
Kau tabur benih cinta yang bertalu dimataku.
Lalu, sekejap kau tinggalkan pahatan luka di hatiku.

Sayang, engkau hilang.
Layaknya perahu berlayar yang tak akan pulang.
Hilang di palung laut.
Tanpa seuntai doa yang terajut.

Pada kehilangan.
Aku belajar tentang waktu yang terus berpamitan.
Lalu, langkahmu melambaikan senyuman mengiris pada setiap pijakan.

Semua telah menjadi kenangan.
Saat waktu merenggut kebersamaan.
Kini, tersisa tubuh renta.
Tertunduk rapuh dengan linang air mata.

Padang-Surabaya, 27 Februari-2 Maret 2015
Karya : Elvis Syahputra dan Rizkiatul Mufarihah

Sebenarnya gue kurang srek dengan judul diatas—soalnya ya bukan penyair. Ya lebih tepatnya penulis puisi. Kalo menurut KBBI artinya penyair gini soalnya. 
 
Menurut gue sih ketinggian. Tapi ada pepatah yang bilang mimpilah sampai ke langit. Yaudah deh. haha
Dulu gue pernah pengen jadi penyair seperti Pablo Neruda, Joko Pinurbo, Kahlil Gibran, Sapardi Djoko Damono dan sejenis penyair-penyair besar ini. Sampek-sampek dulu gue daftar SNMPTN dan SBMPTN dengan jurusan sastra indonesia. Meskipun dengan masuk jurusan sastra tidak menjamin menjadi penyair, tapi setidaknya gue punya titik terang untuk mencapai kepengenan gue menjadi penyair itu.
Tapi semua harapan itu sirna, ketika negara api menyerang. Eh bukan karena gue di tolak mentah-mentah sama PTN-PTN. Sakitnya tuh disini sih jelas. Tapi kalo di pikir-pikir passing gradenya tidak terlalu tinggi sih, tapi mungkin faktor ortu mungkin. Soalnya ortu gue selalu gak ngerestuin gue ngambil jurusan sastra. 
Dan, akhirnya gue masuk jurusan keperawatan gigi. Meskipun tidak passion gue, tapi semua gue jalani dengan basmalah lah. Sampai akhirnya gue di titik paling bosen untuk melanjutkan kehidupan. Dengan masalah seperti itu gue ngelakuin hal-hal yang bermanfaat seperti hobi gue dulu. Nulis puisi.
Setiap orang punya kegemaran masing-masing, akhir-akhir ini gue lagi demen berpuisi. Dengan berpuisi gue bisa mencurahkan segala rasa yang di pikiran dan jiwa secara bebas-bebasnya tanpa diketahui orang lain maksudnya. Tapi, mungkin bagi spesies-spesies yang peka biasanya feelingnya kuat. 
Gue sih aktif nulisnya di twitter. Di situ gue temukan tempat berkicau ter-eksotis di jagat raya.
Suka duka jelas pasti menyapa perjalanan kita, yang namanya hidup pasti ada batuan-batuan yang kadang membuat kita jatuh. Okedeh ini suka-dukanya :
SUKANYA:
      1.     Dapat Apresiasi
Bagi newbie penyair seperti gue ini, apresiasi itu sangat penting. semangat muisinya masih labil. sering terserang virus malas. apresiasi banyak bentuknya. Contohnya kadang di Retweet, Favorit kadang juga dapet pujian. “Keren kak sajaknya” itu sudah adem gitu kalo di hati. dan ada semangat yg tumbuh sendirinya untuk nulis yg lebih baik lagi.
     2.     Dapat Juara
ini menang pas lomba puisi mingguan

ini pas tema pendidikan kalo gak salah. haha

Kadang juga gue sempetin ikutan lomba-lomba di twitter gitu. Alhamdulillah gue juga pernah menang. suwer tekewer-kewer gue gk nyangka banget bisa juara. padahal dulu ke retweet aja juarang, hardly pokoknya itu rasanya sudah seneng banget. 
 
     3.     Dapat temen-temen kece
Tidak jarang kita para-para penggila puisi sering bertegur sapa dan saling mengingatkan jika ada typo atau selainnya. kita sering belajar bersama untuk saling memperbaiki.

Dukanya sih
 1.     Dapat ejekan
Sebaik-baik kita pasti ada saja yang benci sama kita. Ada malah temenku bilang  gini. "Kasihan ya rizkia, kerjaannya mention @bait_puisi. Ya begitulah derita jomblo gak ada yg di mensyen. Hahaha" Ini rasanya jleb banget. padahal dianya juga jomblo loh. biasa deh jomblo kan suka cari temen.  Entahlah gue malah sedikit jarang ngetwit gara-gara ini. Tapi setelah gue pikir-pikir knapa gue harus nyiya-nyiyain diksi gue. Toh dia gak rugikan? semenjak itu gue me minset tuk membuktikan karya gue suatu hari nanti pada doi.


2. Sering begadang
Gue sering begadang demi ikutan puisi malam atau semacamnya, ya emang dini hari waktu yg tepat tuk mencurahkan diksi setelah seharian beraktivitas. ya emang menurut kesehatan tidak baik, tapi itulah resikonya.

3. Miskin imajinasi
kadang ketika ketika sudah bingung mau betkicau tentang apa lagi. Sepertinya kita sudah lelah dan ada saatnya kita membaca reverensi.

4. Susah Move On
 Mungkin sih karena dalam puisi itu sering berhubungan dari masa lalu. Malahan katanya puisi yang bagus itu berdasarkan pengalaman pribadi. Nah, kadang juga gue benci kalo di titik ini. bikin gagal move on.

Itu saja sih kalo suka-duka jadi calon penyair versi gue. Kalo ada yang nambahin pasti gue tampung. Silahkan di kotak komentar ya guys. Bye-bye. :*
link gambar disini

Mbak, bolehkah ku pinjam kekasihmu?
Agar bisa ku cumbu sukmanya  di dalam puisi
Tuk terakhir kalinya

Tak perlu risau
Tak kan kujumpai kekasihmu
sampai engkau mengizini

Mbak, bolehkah ku pinjam kekasihmu?
sekali ini saja; untuk mengakhiri
khilaf yang tak terobati


Aku berjanji, takkan lagi menziarahi